Bangka Barat, matalensapost.com – Komando Distrik Militer (Kodim) 0431/Bangka Barat resmi berganti pucuk pimpinan. Letkol Inf. Kemas Muhammad Nauval, M.Han., yang selama lebih dari dua tahun mengemban tugas di tanah Sejiran Setason, menyerahkan tongkat komando kepada Letkol Czi Fadil, S.E. Seremoni lepas sambut berlangsung pada Sabtu (4/10/2025) di rumah dinas Bupati Bangka Barat, disaksikan jajaran Forkopimda, tokoh masyarakat, organisasi wanita, dan undangan lain yang memenuhi halaman rumah dinas yang pagi itu menjelma ruang silaturahmi publik.
Pergantian komando yang sejatinya protokoler itu terasa lebih hangat daripada sekadar acara seremonial. Wakil Bupati Bangka Barat, H. Yusderahman, tampil bukan sekadar memberi sambutan. Ia menaburkan pantun, melontarkan gurauan, dan menyulam kata “marwah” sebagai pesan moral: bahwa Bangka Barat harus menjaga kehormatan di tengah arus zaman.
“Kalaulah tidak karena tugas, tentu tidaklah kita akan berpisah,” ujarnya sambil melirik Letkol Kemas. Kalimat sederhana, namun mengandung filosofi: tugas negara sering kali menuntut perpisahan, namun tidak memutus tali batin.
Letkol Kemas, yang dua tahun terakhir menjadi nakhoda Kodim, tampak menahan haru. Ia bicara dengan gaya cair, penuh humor, tetapi menyelipkan duka pribadi. Ayahnya wafat pada 2023, disusul ibunya menjelang akhir masa jabatannya. “Bahkan minggu lalu, ibu saya kembali dipanggil Yang Maha Kuasa,” katanya, membuat suasana hening.
Di kursi depan, istrinya menggenggam tangannya erat. Dua tahun mungkin singkat, tapi bagi seorang perwira, cukup untuk menorehkan jejak di tanah yang kaya timah, laut, dan kisah nelayan.
Setelah pamit, hadir sosok baru, Letkol Czi Fadil, S.E. Ia memperkenalkan diri dengan bahasa sederhana, bahkan membumi. Dari Sampang, Madura, ia datang dengan keluarga. “Kadang saya lupa ulang tahun anak, tapi ulang tahun istri tidak pernah saya lupa. Kalau lupa bisa bahaya,” katanya, disambut tawa hadirin.
Perjalanan kariernya panjang, dari Makassar, Papua, Jayapura, Sorong, hingga Madiun. Kini, giliran Bangka Barat menjadi tanah pengabdiannya. “Alhamdulillah, setelah bertahun-tahun di timur, kini saya mendapat kesempatan di barat. Saya mohon doa restu, izin, dan dukungan semua pihak.”
Di penghujung pidatonya, ia menegaskan pentingnya sinergi. Kata-katanya sederhana menjaga kekeluargaan, menjaga kebersamaan. Namun, dalam konteks Bangka Barat, kata itu sarat makna. Karena kebersamaan bukan sekadar klise, tetapi kebutuhan nyata dalam menghadapi tarikan kepentingan ekonomi yang kerap merobek tenunan sosial.
Kodim, dalam hal ini, bukan semata-mata institusi pertahanan. Ia adalah penengah yang senyap. Dalam era Letkol Kemas, Kodim 0431 hadir dalam berbagai program kemanusiaan, dari bakti sosial hingga penanganan masalah lingkungan. Namun, publik masih bertanya: sejauh mana Kodim bisa berperan dalam menyeimbangkan kepentingan tambang dan kehidupan nelayan?
Letkol Fadil, dengan latar belakang panjang di berbagai medan, dihadapkan pada ujian yang sama. Tugasnya bukan hanya menjaga stabilitas, tetapi menjaga marwah Bangka Barat. Kata “marwah” yang diucapkan Yusderahman dalam pidatonya, sejatinya adalah kompas moral: kehormatan masyarakat Bangka Barat harus lebih tinggi daripada sekadar angka produksi timah.
Sejatinya, acara lepas sambut ini dapat dibaca sebagai metafora kehidupan politik-ekonomi Bangka Barat. Ada tawa, ada tangis, ada pantun, dan ada doa. Namun, di balik itu semua, ada keresahan yang tak pernah sepenuhnya terucap yaitu bagaimana menjaga keadilan bagi nelayan, bagaimana mengatur tambang agar tidak melahirkan kesenjangan, bagaimana pemerintah daerah bersinergi dengan TNI-Polri untuk menjaga harmoni sosial.
Sastra lokal memberi kita pantun sebagai hiburan. Namun, pantun juga adalah kritik sosial terselubung. Pantun di acara itu bukan sekadar hiasan, tetapi tameng: di antara tawa, ia menyembunyikan kegelisahan bahwa Bangka Barat bisa kehilangan marwahnya jika hanya tunduk pada kepentingan tambang.
Di sinilah makna edukasi berita ini kepada masyarakat perlu belajar membaca seremoni, bukan hanya sebagai pesta seremonial. Setiap pantun adalah pesan, setiap air mata adalah tanda, setiap pergantian adalah peringatan bahwa kepemimpinan adalah amanah, bukan privilese.
Pada akhirnya, acara ditutup dengan pantun:
Sungguh harum kayu gaharu,
Tak kalah dengan kayu cendana;
Selamat mengemban amanah baru,
Marwah dijaga sinergitas dibina.
Tepuk tangan panjang menggema. Hadirin saling berjabat tangan. Anak-anak berlari di halaman rumah dinas, tawa mereka pecah di udara.
Namun, bagi jurnalis yang hadir, suasana itu lebih dari sekadar pesta perpisahan. Ia adalah cermin sosial akan tentang bagaimana sebuah kabupaten kecil di pulau timah menata masa depan. Tentang bagaimana Kodim bukan hanya komando militer, tetapi simpul yang mengikat masyarakat. Tentang bagaimana Bangka Barat adalah rumah besar, di mana nelayan, penambang, pejabat, dan rakyat kecil duduk dalam satu lingkaran yang disebut kebersamaan.
Peristiwa ini menegaskan yang paling penting bukan siapa yang datang dan pergi, tetapi bagaimana amanah dijaga. Di atas kertas, lepas sambut hanyalah rutinitas birokrasi. Namun di lapangan, ia adalah panggung kehidupan: panggung di mana air mata komandan bercampur dengan aroma kopi, di mana pantun pejabat menutup luka sosial yang belum sepenuhnya sembuh, di mana tawa undangan menjadi musik pengiring sebuah kritik sosial yang samar.
Di Bangka Barat, marwah bukan sekadar kata. Ia adalah harga diri nelayan yang kehilangan lautnya. Ia adalah suara rakyat kecil yang sering tenggelam di balik bising mesin tambang. Ia adalah doa ibu-ibu yang berharap anaknya tidak hanya mewarisi tanah timah, tetapi juga tanah yang layak dihuni.
Pergantian Dandim hanya satu episode. Namun dari episode kecil ini, masyarakat diajak belajar: bahwa pemimpin datang dan pergi, tetapi tanggung jawab sosial tidak pernah boleh ditinggalkan. Kodim, pemerintah, masyarakat semuanya harus menjaga marwah itu bersama. (Belfa Alkhab, ST/**).






