Bangka Barat, matalensapost.com – Senin pagi, 24 Agustus 2026. Matahari baru saja naik di atas perairan Bangka Barat. Di Markas Komando Satuan Polisi Perairan dan Udara (Satpolairud) Polres Bangka Barat, suasana sudah sibuk sejak dini hari. Sebuah perintah baru saja turun langsung dari Kapolda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Perintah itu singkat namun tegas: perketat pengawasan di seluruh perairan laut, terutama di titik-titik yang kerap menjadi jalan keluar bagi barang selundupan. Komando itu disampaikan kepada Direktorat Polairud Polda Babel, yang kemudian menyampaikannya ke seluruh jajaran termasuk Satpolairud Polres Bangka Barat.
Menuju Pelabuhan Tikus
“Siap berangkat!”
Kapal patroli Satpolairud Polres Bangka Barat mulai membelah air laut perairan Mentok. Tujuan patroli kali ini bukan pelabuhan resmi yang terang benderang, melainkan pelabuhan tikus, dermaga-dermaga kecil yang tersembunyi di balik teluk, di balik pulau-pulau kecil, tempat kapal-kapal tanpa dokumen sah sering kali bersandar di malam hari.
Dari atas geladak kapal, Iptu Yudi Laksmono, S.H., Kasatpolairud Polres Bangka Barat, menatap tajam ke arah garis pantai. Ia tahu betul apa yang terjadi di sana. Selama ini, ratusan ton timah ilegal dan berbagai barang lain sering kali keluar dari wilayah ini tanpa selembar dokumen pun.
“Patroli serentak ini secara khusus menyasar pada pelabuhan tikus yang dinilai merupakan wilayah rawan terjadinya aksi penyelundupan, khususnya komoditas timah ilegal dan barang-barang lainnya keluar dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,” ujarnya tegas.
Bukan Sekadar Satu Hari
Kapal patroli bergerak dari satu titik ke titik lain. Dari Teluk Limbung hingga ke perairan sekitar Pulau Mandi. Setiap kapal yang berpapasan dicek, setiap dermaga yang sepi diperiksa. Tidak ada yang dilewatkan.
Namun Yudi menegaskan: ini bukan sekadar kegiatan sesaat untuk pencitraan.
“Patroli ini merupakan perintah langsung pimpinan untuk mengintensifkan pengawasan di titik-titik rawan. Kami fokuskan di pelabuhan tikus dan jalur-jalur yang kerap digunakan pelaku untuk menyelundupkan barang,” jelasnya.
Kegiatan ini direncanakan akan berjalan secara berkala dan berkelanjutan. Bisa pagi, bisa malam. Bisa hari kerja, bisa akhir pekan. Agar pelaku tidak pernah bisa menebak kapan petugas akan datang.
Menjaga Kekayaan yang Tak Boleh Hilang
Di balik mesin kapal yang menderu, ada satu tujuan besar: memutus mata rantai penyelundupan yang selama ini merugikan rakyat banyak. Timah yang diselundupkan tanpa izin adalah kekayaan negara yang diambil secara curang —uang yang seharusnya kembali untuk pembangunan sekolah, rumah sakit, dan jalan di Bangka Belitung, justru hilang dibawa pergi kapal-kapal gelap.
“Dengan adanya patroli serentak ini, diharapkan dapat mencegah dan memutus mata rantai penyelundupan, serta menjaga stabilitas keamanan dan tata niaga di wilayah perairan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,” kata Yudi.
Laut yang Lebih Aman
Sore itu, saat kapal patroli kembali ke pangkalan, langit di atas perairan Bangka Barat berwarna jingga keemasan. Laut tetap tenang, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda kesadaran bahwa pengawasan itu nyata. Bahwa ada pihak yang terus berjaga, memastikan bahwa kekayaan alam milik bersama tidak diangkut diam-diam oleh segelintir orang.
Patroli hari ini adalah awal. Dan seperti yang dijanjikan ini baru permulaan. Selama masih ada yang berusaha menyelundupkan kekayaan negara, lampu kapal patroli akan terus menyala di atas laut Bangka Barat.






