Benteng Kota, Bangka Barat – Rabu (01/10/2025), kabut tipis menyelimuti pesisir Lampu Merah, Desa Benteng Kota. Dari jauh, laut tampak tenang, tapi di balik keheningannya tersimpan dentuman rahasia dimana satu speed boat melaju membawa karung-karung bijih timah yang hendak melintas ke jalur gelap dari Laut Kecamatan Tempilang DU 1545
Namun, pagi itu pukul 08.00 WIB bukan milik para penyelundup. Laut Tempilang, yang sudah lama dijarah tanpa malu, memilih berpihak pada para nelayan. Mereka bukan aparat berseragam, bukan pejabat berpidato, melainkan orang-orang yang sehari-hari menebar jala.

Kelompok Nelayan Mutiara Semubung yang dipimpin oleh Baharudin, nelayan tua yang rambutnya telah memutih oleh asin laut, kelompok ini berdiri tegak sebagai saksi sekaligus pelaku dari sebuah operasi yang jarang terjadi: mencegah timah ilegal keluar dari IUP Laut Tempilang.
“Kami sering dengar kabar ada timah keluar lewat speed boat, tapi pagi ini kami pastikan dengan mata kepala sendiri. Kami tidak mau laut kami jadi jalan tol untuk barang gelap,” ujar Baharudin, dengan suara parau tapi mantap.

Baharudin tak sendiri, Ommak dan Ibrahim, dua nelayan lain dari kelompok Mutiara Semubung, menjadi mata laut yang jeli. Mereka yang pertama kali mencium arah pergerakan speed boat, membaca gelombang yang tak wajar, lalu memberi sinyal ke salah satu anggota Satgas Halilintar yang mendampingi mereka.
Satgas Halilintar Apresiasi Keberanian Baharudin dan Anggotanya
Satgas memang hadir, tapi bukan sebagai bintang utama. Justru nelayan yang menjadi pengendali arah: merekam, memberi petunjuk, hingga mengawal.
“Tanpa mata nelayan, sulit menemukan jejak speed boat. Nelayan punya intuisi yang tak bisa dibeli oleh radar sekalipun,” ujar seorang anggota Satgas, lirih seakan mengakui bahwa pagi itu mereka hanya menjadi pelengkap dari aksi tersebut.
Lampu sorot kapal patroli menembus kabut. Bayangan speed boat berkelebat. Riuh kecil terdengar di pesisir, ratusan warga berkumpul, sebagian dengan ponsel menyorot ke tengah laut. Mereka menyaksikan sesuatu yang jarang terjadi: nelayan yang biasanya kalah suara kali ini justru menjadi pengawal keadilan.
Karung-Karung Misterius, 189 Kilogram Timah Gelap Diselamatkan
Ketika speed boat dihentikan, suasana mencengangkan. Lima kampil karung diturunkan dengan 189 Kilogram bijih timah basah. Angin asin bercampur sorak warga. Baharudin dan kelompoknya tersenyum getir, sadar bahwa yang mereka selamatkan bukan sekadar karung, melainkan bagian dari laut yang selama ini terus digerus.
Baharudin, dengan logat khas pesisirnya, bergumam.
“Timah ini seperti ikan yang kami tangkap kembali dari jaring orang lain. Kalau dibiarkan lolos, esok anak cucu hanya akan mewarisi lumpur, bukan laut,” ujarnya seraya bergumam.
Perjalanan tak berhenti di laut. Bersama Satgas yang mendampingi, kelompok Mutiara Semubung ikut mengawal barang bukti hingga ke Pos Tambang PT Timah di Desa Tempilang.
Karung-karung itu diturunkan satu persatu, ditimbang ulang, dicatat, disahkan dengan angka 189 Kilogram timah gelap yang berubah menjadi jalan terang menuju penyimpanan resmi.
Salah satu petugas Pos Tambang mengakui keberanian nelayan.
“Tanpa laporan dan keberanian nelayan, sulit membayangkan barang ini sampai ke sini. Mereka seakan menggantikan mata negara yang sering buta di laut,” imbuhnya.
Ironi pun terselip. Di negeri dengan aparat lengkap, radar canggih, dan struktur tambang yang formal, justru nelayan tradisional yang harus turun tangan mencegah bocornya aset negara.
Laut Tempilang, dengan enam mitra PT Timah dan hampir 200 Ponton Isap Produksi, seakan dikelola dengan logika industri. Tapi siapa yang menjaga agar jalur gelap tak terbuka lebar? Nelayan, dengan perahu kayu rapuh, dengan mata yang terlatih membaca arus, dengan keberanian tanpa seragam.
Satire muncul dari mulut Baharudin, salah satu nelayan kelompok Semubung:“Kalau begini terus, mungkin kami nelayan harus ganti nama jadi Satgas Mutiara. Bedanya, kami digaji ikan, bukan APBN.”
Apalah arti 189 Kilogram dibanding ribuan ton timah yang keluar tiap tahun? Kecil. Sangat kecil. Tapi di mata warga pesisir, itulah simbol perlawanan. Bahwa masih ada yang berani berdiri melawan arus. Bahwa nelayan bukan sekadar penonton, melainkan pemain yang menentukan.
Operasi itu membuka ruang kritik: mengapa nelayan yang seharusnya dilindungi justru harus menjadi pelindung? Mengapa negara baru hadir ketika nelayan sudah lebih dulu bergerak?
Peran Panitia Patut di Pertanyakan
Pagi itu, laut Benteng Kota membisu tapi berbicara dengan caranya sendiri setelah adanya insiden penangkapan timah. Hal menunjukkan bahwa penyelamatan tak selalu datang dari mereka yang berwenang, tapi dari orang-orang yang paling kehilangan dimana peran dari kepengurusan panitia dipertanyakan karena timah dari hasil penambangan masih bisa lolos seakan masuk ke jalur gelap.
Kelompok Mutiara Semubung bukanlah aparat. Mereka hanyalah nelayan, anak dari asin laut, cucu dari ombak tua. Tapi ketika timah hendak keluar lewat jalur gelap, merekalah yang berdiri pertama kali dan bukan Panitia yang dibentuk untuk mengawasi pekerjaan dengan fee Rp 8000/Kilogram/CV.
Dan jika negeri ini masih menyebut dirinya kaya, maka kaya itu mestinya tak hanya untuk tambang, melainkan juga untuk mereka yang menjaga laut dengan jaring dan doa. (BR Tim).






