Banda Aceh, 13 September 2026 — Berhaji bukan sekadar soal mampu membayar biaya perjalanan dan memiliki tubuh yang sehat. Ada kesiapan lain yang jauh lebih mendasar: mental, spiritual, pengetahuan, dan keteguhan hati untuk menjalani seluruh rangkaian ibadah di Tanah Suci.
Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Manasik Haji KBIHU ‘Aisyiyah Nashita Al Hujjaj Tahun 2027/1448 H, Ahad (13/9), yang dimulai sejak pukul 09.00 WIB. Mengusung tema “Meluruskan Niat dan Membangun Mentalitas Istitha’ah Jamaah Haji”, kegiatan ini menjadi momentum bagi calon jamaah untuk mempersiapkan diri jauh sebelum keberangkatan ke Baitullah.
Kegiatan yang dipandu Febi Mutia sebagai MC tersebut menghadirkan Dr. H. M. Iqbal, S.Ag., M.H., Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kota Banda Aceh Tipe A, sebagai narasumber.
Dalam pemaparannya, jamaah diajak memahami istitha’ah secara liebih luas. Kemampuan berhaji tidak berhenti pada persoalan finansial dan kesehatan fisik. Seorang calon jamaah juga dituntut memiliki kesiapan mental, bekal ilmu, kematangan spiritual, serta kemampuan menghadapi kondisi dan tantangan selama berada di Tanah Suci.
Sebab, perjalanan haji tidak selalu berjalan sesuai kenyamanan yang dibayangkan.
Perbedaan cuaca, lingkungan, kepadatan jamaah, perubahan situasi, hingga tuntutan untuk mengurus kebutuhan diri sendiri membutuhkan kesabaran dan kemandirian. Karena itu, bekal ilmu dan kesiapan mental menjadi bagian penting yang tidak boleh dipandang sebelah mata.
Manasik pun tidak sekadar menjadi forum untuk menghafal tata cara ibadah. Lebih dari itu, jamaah diajak mengoreksi niat, membangun keikhlasan, melatih kesabaran, memperkuat tawakal, dan menyiapkan mental sebagai tamu Allah SWT.
Bagi KBIHU ‘Aisyiyah Nashita Al Hujjaj, manasik merupakan bagian penting dari proses pembentukan kesiapan jamaah. Ilmu menjadi bekal perjalanan, sementara kesiapan batin menjadi kekuatan ketika jamaah berhadapan dengan berbagai situasi di Tanah Suci.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan perjalanan haji bukan hanya ketika seorang jamaah berhasil berangkat dan kembali ke tanah air.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang berubah setelah pulang dari Baitullah?
Haji diharapkan tidak berhenti sebagai gelar atau predikat. Ia harus tercermin dalam perubahan sikap, ketakwaan, kesabaran, keikhlasan, dan kualitas kehidupan sehari-hari.
Karena itu, perjalanan menuju Baitullah sesungguhnya bukan hanya perjalanan menuju sebuah tempat suci. Ia adalah perjalanan panjang untuk mempersiapkan hati agar benar-benar layak menjadi tamu Allah dan pulang membawa makna kemabruran.
KBIHU ‘Aisyiyah Nashita Al Hujjaj — bersama mempersiapkan jamaah menuju haji yang mabrur.






