Pangkalpinang, matalensapost.com – Langit di atas Jalan Ketapang, Pangkalpinang, berwarna abu-abu kusam sore itu, seolah menahan tangis yang tak bisa meletus. Pukul lima lewat sedikit, Muhammad Alhady yang dipanggil orang-orang di sekitarnya Ady Atek melangkah masuk ke kawasan eks Smelter SJI. Tiga orang berjalan di belakangnya. Langkah mereka ringan, seolah tempat itu memang milik siapa saja yang berani datang.
Selama tiga hari mereka datang ke sini. Pagi berangkat, sore pulang, membawa potongan besi, kepingan logam, sisa-sisa bangunan yang dulu megah lalu ditinggalkan begitu saja. Tak ada pagar yang menutup. Tak ada papan peringatan. Tak ada satu pun petugas yang menegur. Pintu masuk terbuka lebar, menganga seperti luka yang tak diobati.
Sore itu, tepat pukul 17.50 WIB, terdengar suara itu. Bukan letusan, bukan guntur melainkan derit logam tua yang tak sanggup menahan beban, diikuti gemuruh yang menggetarkan tanah.
Iwan Madona, yang sedang beristirahat tak jauh dari situ, berlari secepat kakinya membawanya. Apa yang ia temukan membuat napasnya tercekat. Di bawah tumpukan beton dan batu yang baru saja runtuh, terbaring tubuh Ady. Darah merembes membasahi tanah yang kering.
“Sudah tak tertolong,” ucapnya pelan, suaranya pecah saat melaporkan kejadian itu ke Pos Satpolairud pukul 18.12 WIB.
Kabar yang Membawa Hancur
Pukul 18.30 WIB, telepon berdering di tempat Jaya Wilianson bekerja. Sebagai petugas keamanan di Pertamina, ia terbiasa menghadapi hal-hal berat. Tapi kabar yang datang dari Polsek Taman Sari malam itu menghancurkan pertahanannya. Adiknya, yang baru berusia tiga puluh tahun, tak akan pulang lagi.
Ia meluncur ke TKP. Langit sudah gelap. Lampu-lampu kendaraan menyorot tumpukan reruntuhan yang kini terasa menyeramkan. Pukul 20.30 WIB, jenazah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Babel. Hasil pemeriksaan visum berbicara tanpa ampun: kepala terpukul keras, luka robek di dagu, patah tulang paha, memar menyebar di sekujur tubuh. Benturan yang mematikan.
Namun yang lebih menyakitkan daripada luka di tubuh adiknya adalah kenyataan yang mulai terungkap.
“Tempat itu aset sitaan negara. Seharusnya dijaga, dipagar, dikunci. Tapi apa yang saya lihat? Terbuka lebar. Siapa saja bisa masuk. Tiga hari mereka bekerja di sana, tak ada yang melarang. Di mana pengawasnya? Di mana aturannya?” tanya Jaya, suaranya gemetar menahan amarah.
Ia tahu ini bukan kebetulan. Kawasan eks industri di Pangkalpinang sudah berulang kali dijarah, besi diambil, bangunan dibongkar namun tak pernah ada yang turun tangan. Hingga sore itu, ketika nyawa menjadi harganya.
Bayang Tiga Sosok
Tiga orang yang bersama Ady sore itu pergi sebelum bantuan tiba. Mereka ikut bekerja, ikut mengambil, lalu menghilang. Identitas mereka belum diketahui. Pihak berwajib masih menelusuri jejak mereka.
Namun pertanyaan yang lebih besar mulai muncul: bagaimana mungkin mereka tahu tempat itu terbuka? Bagaimana selama tiga hari tak ada satu pun yang bertanya? Apakah mereka hanya pekerja harian yang terjebak kebutuhan, atau bagian dari jaringan yang sudah lama memanfaatkan kelalaian negara?
Jika benar ada jaringan, maka kematian Ady bukan sekadar kecelakaan. Ia adalah korban dari sistem yang roboh lebih dulu daripada bangunan itu sendiri.
Siapa yang Bertanggung Jawab?
Di mana letak kesalahan ini? Apakah pada orang yang masuk ke sana? Atau pada mereka yang seharusnya menjaga, namun membiarkan pintu terbuka selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun?
Kawasan eks Smelter SJI adalah aset sitaan negara. Tanggung jawabnya berada di tangan Kejaksaan Agung, BPKN, atau instansi yang diberi wewenang. Namun fakta di lapangan berbicara lain: pagar tak ada, penjagaan kosong, bahaya terlihat jelas namun diabaikan.
Maka ini bukan sekadar tuntutan keadilan bagi satu keluarga. Ini adalah peringatan keras kepada seluruh bangunan birokrasi yang terlelap:
Nyawa rakyat tidak boleh menjadi harga dari kelalaian Anda. Karena itu, kami menuntut:
– Segera pasang pagar permanen, garis polisi, dan pengamanan ketat di seluruh kawasan eks Smelter SJI.
– Panggil dan periksa penanggung jawab resmi pengelolaan aset ini. Siapa yang mengawasi? Siapa yang membiarkan terbuka? Jawabannya harus terbuka untuk umum.
– Lacak tiga orang rekan korban, periksa keterlibatan mereka, dan telusuri apakah ada jaringan yang lebih besar di balik penjarahan aset negara.
– Pasang peringatan bahaya dan tegakkan hukum di semua kawasan terlantar milik negara. Jangan tunggu nyawa lain melayang sebelum bergerak.
Sebelum Ada Nama Lain di Daftar
Matahari terbit pagi ini tanpa Ady. Istrinya menunggu di rumah yang tak akan ia pulangi. Anak-anaknya bertanya kapan ayah pulang. Dan pertanyaan itu tak akan pernah terjawab dengan benar.
“Aset negara memang harus dijaga. Tapi nyawa rakyat jauh lebih berharga dari beton dan besi,” ucap Jaya pelan, menatap ke arah jendela. “Jika pagar tak ada, jika pengawas tidur, jika aturan hanya tertulis di kertas maka negara ikut bertanggung jawab atas setiap kematian yang terjadi.”
Besok, siapa lagi yang harus hilang sebelum pintu itu akhirnya ditutup?
Catatan: Cerita ini disusun berdasarkan fakta dan data yang diperoleh di lapangan. Investigasi masih berlangsung untuk menelusuri siapa pemegang kendali dan penanggung jawab resmi kawasan eks Smelter SJI. Setiap pihak yang memiliki informasi dimohon untuk menghubungi kami.
Disusun oleh: Tim Investigasi Macanputih / Tim IMC






