Home / Lifestyle / Pendidikan yang Ideal dalam Perspektif Dr. Iswadi, M.Pd

Pendidikan yang Ideal dalam Perspektif Dr. Iswadi, M.Pd

Jakarta : Dalam pandangan Dr. Iswadi, M.Pd., pendidikan yang ideal bukan sekadar proses transfer pengetahuan dari guru kepada peserta didik, melainkan suatu upaya holistik untuk membentuk manusia yang berkarakter, berdaya saing, dan berintegritas. Pendidikan sejatinya merupakan sarana strategis untuk memanusiakan manusia humanizing human being melalui pembentukan akal budi, moralitas, dan keterampilan hidup yang utuh. Oleh karena itu, pendidikan yang ideal harus memadukan tiga aspek utama pengembangan intelektual, dan pembentukan karakter serta penguatan spiritualitas

Menurut Dr. Iswadi, pendidikan tidak boleh terjebak pada paradigma kognitif semata yang hanya menekankan pada penguasaan materi dan pencapaian nilai akademik. Ia menekankan bahwa keberhasilan pendidikan harus diukur dari sejauh mana proses belajar mampu menumbuhkan kejujuran, tanggung jawab, empati, dan semangat kebangsaan dalam diri peserta didik. Pendidikan yang ideal harus melahirkan manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan moral. Dalam konteks inilah, integritas menjadi pilar utama yang menopang seluruh proses pendidikan.

Dr. Iswadi berpandangan bahwa pendidikan berintegritas adalah pendidikan yang dilandasi oleh kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab moral. Guru sebagai pendidik harus menjadi teladan dalam sikap dan perilaku, sebab keteladanan lebih kuat pengaruhnya dibandingkan seribu nasihat. Ia sering menegaskan bahwa pendidikan akan kehilangan rohnya bila guru tidak menjadi figur moral yang dapat dipercaya. Dengan demikian, pendidikan yang ideal tidak mungkin tercapai tanpa adanya integritas dari seluruh elemen yang terlibat baik guru, peserta didik, orang tua, maupun pemangku kebijakan.

Dalam kerangka praktik, Dr. Iswadi menekankan pentingnya pendidikan yang humanis dan kontekstual . Humanis berarti menghargai potensi unik setiap peserta didik, sedangkan kontekstual berarti pendidikan harus berakar pada realitas sosial dan budaya masyarakatnya. Ia menolak model pendidikan yang seragam dan mengekang kreativitas, karena menurutnya setiap anak memiliki gaya belajar, minat, dan bakat yang berbeda. Guru harus mampu menjadi fasilitator yang menggali potensi anak melalui pendekatan yang adaptif dan menyenangkan.

Selain itu, pendidikan yang ideal menurut Dr. Iswadi harus mampu menjawab tantangan zaman. Di era globalisasi dan disrupsi teknologi, pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan teori, tetapi juga menanamkan kemampuan berpikir kritis, literasi digital, dan semangat kewirausahaan. Namun demikian, ia mengingatkan agar kemajuan teknologi tidak menjauhkan manusia dari nilai nilai kemanusiaan. Oleh karena itu, integrasi antara kecerdasan digital dan nilai nilai moral menjadi kunci dalam membangun generasi yang tangguh dan beretika di masa depan.

Lebih jauh, Dr. Iswadi menyoroti bahwa sistem pendidikan nasional masih menghadapi tantangan dalam mewujudkan keadilan dan pemerataan. Ia berpandangan bahwa pendidikan ideal harus inklusif dan berkeadilan sosial, memberikan kesempatan yang sama bagi setiap anak bangsa tanpa memandang latar belakang ekonomi, suku, atau agama. Pendidikan tidak boleh menjadi alat reproduksi ketimpangan sosial, melainkan sarana untuk membebaskan dan memberdayakan. Dalam pandangannya, prinsip tidak ada anak yang tertinggal .itu harus menjadi komitmen bersama seluruh penyelenggara pendidikan di Indonesia.

Integritas pendidikan juga terwujud melalui sistem yang transparan dan akuntabel. Dr. Iswadi menilai bahwa berbagai praktik penyimpangan seperti jual beli nilai, manipulasi data, dan komersialisasi pendidikan merupakan ancaman serius terhadap moralitas bangsa. Ia menegaskan bahwa reformasi pendidikan harus dimulai dari pembenahan moral para pelaku pendidikan. Kurikulum yang baik tidak akan bermakna tanpa integritas pelaksana di lapangan. Karena itu, ia selalu menekankan pentingnya menumbuhkan budaya integritas dalam setiap level institusi pendidikan, mulai dari kepala sekolah, guru, hingga siswa.

Dalam perspektif Dr. Iswadi, pendidikan yang ideal juga harus berorientasi pada pembangunan karakter bangsa. Ia meyakini bahwa kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan warganya, tetapi juga oleh moralitas dan etos kerja mereka. Nilai nilai seperti disiplin, kerja keras, gotong royong, dan cinta tanah air harus menjadi ruh pendidikan. Sekolah hendaknya menjadi laboratorium nilai, tempat peserta didik belajar tidak hanya tentang ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang kehidupan, tanggung jawab sosial, dan makna menjadi manusia yang berguna bagi sesama.

Akhirnya, pendidikan yang ideal menurut Dr. Iswadi, M.Pd. adalah pendidikan yang membebaskan, memerdekakan, dan memanusiakan. Pendidikan yang membebaskan berarti membangun kesadaran kritis dan kemampuan berpikir mandiri; pendidikan yang memerdekakan berarti memberi ruang bagi kreativitas dan kebebasan berpikir; sedangkan pendidikan yang memanusiakan berarti menempatkan setiap peserta didik sebagai pribadi yang utuh dan bernilai. Ketiga dimensi tersebut berpadu dalam semangat integritas yang menjadi fondasi moral seluruh praktik pendidikan.

Dengan demikian, pendidikan yang ideal tidak hanya melahirkan manusia yang pandai, tetapi juga manusia yang berakhlak, berintegritas, dan bertanggung jawab terhadap diri, masyarakat, dan bangsanya. Pandangan Dr. Iswadi ini menjadi pengingat bahwa tujuan tertinggi pendidikan adalah membangun peradaban yang bermartabat melalui generasi yang cerdas dan berkarakter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PAGE TOP