Jakarta – Rabu 12 November 2025 Dalam sejarah panjang perjuangan bangsa, pahlawan sering kali dipahami sebagai mereka yang mengangkat senjata, menumpahkan darah, atau menantang penjajah di medan perang. Namun, di tengah dunia yang telah berubah, bentuk penjajahan pun berganti rupa. Ia tak lagi selalu hadir dalam bentuk kekuasaan asing, melainkan dalam bentuk kebodohan yang dilembagakan dan ketidakadilan yang dilegitimasi oleh sistem sosial, ekonomi, dan pendidikan itu sendiri. Di sinilah muncul sosok seperti Dr. Iswadi, seorang pemikir dan pendidik yang memahami bahwa melawan kebodohan adalah bentuk perjuangan paling mendasar dari manusia yang ingin merdeka. Melalui gagasannya tentang pendidikan pembebasan, Dr. Iswadi berusaha menyalakan api kesadaran bahwa kelas bukan sekadar ruang belajar, melainkan ruang lahirnya kesadaran kritis.
Dr. Iswadi menempatkan pendidikan bukan sebagai proses transfer pengetahuan, melainkan sebagai proses pembentukan kesadaran. Ia sejalan dengan pemikiran tokoh-tokoh seperti Paulo Freire yang menolak pandangan bahwa peserta didik adalah celengan kosong yang harus diisi dengan pengetahuan. Dalam pandangan semacam itu, guru menjadi pusat kebenaran, sementara murid hanya menjadi penerima pasif. Bagi Dr. Iswadi, sistem pendidikan seperti ini justru melestarikan kebodohan, karena menumpulkan daya kritis dan menjauhkan manusia dari kemerdekaan berpikir. Pendidikan semestinya menjadi alat untuk membuka mata terhadap kenyataan, bukan menutupnya dengan dogma.
Dalam praktiknya, gagasan Dr. Iswadi berangkat dari keprihatinan terhadap realitas pendidikan Indonesia yang sering kali menempatkan siswa dalam tekanan sistem nilai, ujian, dan target kurikulum yang kaku. Pendidikan berubah menjadi ajang kompetisi tanpa arah kemanusiaan. Di titik inilah ia menegaskan bahwa pendidikan seharusnya membebaskan, bukan menindas. Membebaskan dari kebodohan, kemiskinan, ketakutan, dan ketidakadilan sosial. Baginya, pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan orang pintar, tetapi harus melahirkan manusia yang sadar akan realitas sosialnya dan mampu bertindak untuk mengubahnya.
Salah satu gagasan penting Dr. Iswadi adalah konsep kelas yang hidup. Kelas tidak boleh menjadi ruang sunyi di mana murid sekadar mendengarkan guru, mencatat, lalu menghafal. Kelas harus menjadi ruang dialog, tempat gagasan tumbuh melalui percakapan, pertanyaan, dan refleksi bersama. Guru bukan penguasa pengetahuan, melainkan fasilitator yang menyalakan api keingintahuan. Melalui dialog, murid belajar memahami bahwa realitas bisa dipertanyakan dan diubah. Inilah langkah pertama menuju kesadaran kritis kesadaran bahwa dunia tidak bersifat tetap, dan manusia memiliki daya untuk menafsirkan serta mengubahnya.
Dr. Iswadi juga menyoroti pentingnya keadilan pengetahuan. Dalam masyarakat yang timpang, pengetahuan sering kali dimonopoli oleh kelompok tertentu. Sekolah yang seharusnya menjadi jalan pemerataan malah sering menjadi alat reproduksi ketimpangan sosial. Anak anak dari kelas ekonomi bawah sering kali tidak mendapat akses yang sama terhadap pendidikan berkualitas. Lebih parah lagi, isi pendidikan pun sering bias kelas, bias gender, bahkan bias kekuasaan. Melalui pendekatan pendidikan pembebasan, Dr. Iswadi menolak semua bentuk dominasi itu. Ia mendorong agar sekolah menjadi tempat di mana setiap anak tanpa memandang latar belakang dihargai sebagai subjek yang setara.
Pendidikan pembebasan ala Dr. Iswadi tidak berhenti di ruang kelas. Ia meluas ke ruang sosial. Pendidikan harus bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat. Belajar tidak cukup hanya memahami teori, tetapi juga melibatkan diri dalam realitas sosial melihat kemiskinan, ketidakadilan, kerusakan lingkungan, dan berbagai bentuk ketimpangan lainnya. Dari pengalaman nyata itu, peserta didik belajar untuk berpikir reflektif dan bertindak transformatif. Dengan demikian, pendidikan menjadi jalan menuju perubahan sosial, bukan sekadar alat mobilitas ekonomi.
Dalam konteks ini, Dr. Iswadi bisa disebut sebagai pahlawan melawan kebodohan dan ketidakadilan modern. Ia tidak berperang dengan senjata, melainkan dengan gagasan dan tindakan yang menyalakan kesadaran. Ia menunjukkan bahwa melawan kebodohan bukan berarti sekadar menambah pengetahuan, tetapi menumbuhkan kesadaran kritis terhadap struktur yang melahirkan kebodohan itu sendiri. Dalam dirinya, pendidikan menjadi bentuk perlawanan perlawanan terhadap sistem yang mematikan kreativitas, melumpuhkan nalar, dan menjauhkan manusia dari hakikat kemanusiaannya.
Gagasan Dr. Iswadi menjadi cermin bahwa bangsa yang ingin maju tidak cukup dengan membangun gedung sekolah, mengganti kurikulum, atau menambah anggaran pendidikan. Yang lebih penting adalah membangun kesadaran pendidikan kesadaran bahwa setiap proses belajar adalah proses memanusiakan manusia. Pendidikan yang membebaskan akan melahirkan generasi yang tidak sekadar cerdas, tetapi juga berani berpikir, berani bertanya, dan berani menegakkan keadilan.
Akhirnya, perjuangan Dr. Iswadi menunjukkan bahwa kelas sejati bukanlah ruang empat dinding dengan papan tulis dan kursi kursi tersusun rapi, melainkan ruang di mana kesadaran lahir dan kebebasan berpikir tumbuh Dari kelas menuju kesadaran, dari kesadaran menuju perubahan itulah jalan pendidikan pembebasan yang ia tawarkan. Sebuah jalan panjang, tetapi satu-satunya yang bisa membawa manusia keluar dari belenggu kebodohan dan ketidakadilan menuju kemerdekaan sejati






